Presiden Ramaphosa Kesal Karena Jendral Afsel Dukung Iran. Presiden Afrika Selatan, Cyril Ramaphosa, baru-baru ini mengungkapkan kekesalannya terhadap pernyataan Kepala Staf Angkatan Bersenjata Afrika Selatan (SANDF), Jenderal Rudzani Maphwanya, yang menyatakan solidaritas dengan Iran selama kunjungannya ke Teheran pada Juli 2025. Pernyataan ini memicu polemik karena dianggap tidak sejalan dengan kebijakan luar negeri Afrika Selatan yang sedang berupaya memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat. Kejadian ini mencuri perhatian publik, terutama karena Afrika Selatan berusaha menjaga posisi netral dalam geopolitik global. Apa alasan di balik dukungan Jenderal Maphwanya terhadap Iran, mengapa Ramaphosa kesal, dan bagaimana tanggapan sang jenderal? BERITA LAINNYA
Alasan Jendral Afsel Dukung Iran?
Jenderal Rudzani Maphwanya, dalam kunjungannya ke Teheran, menyatakan solidaritas dengan Iran terkait isu konflik di Timur Tengah, khususnya dukungan terhadap Gaza. Ia menyebut Iran sebagai “mitra strategis” dalam menjaga stabilitas regional dan mengkritik tindakan militer Israel. Pernyataan ini disampaikan dalam pertemuan dengan pejabat militer Iran, di mana Maphwanya juga membahas kerja sama pertahanan, termasuk pelatihan militer dan pertukaran teknologi. Dukungan ini sejalan dengan sikap Afrika Selatan yang vokal mendukung Palestina, termasuk menggugat Israel di Mahkamah Internasional atas dugaan genosida di Gaza. Namun, pernyataan Maphwanya dianggap terlalu jauh karena tidak mendapat persetujuan resmi dari pemerintah, dan kunjungannya sendiri tidak diotorisasi oleh Kementerian Luar Negeri (DIRCO). Maphwanya tampaknya ingin memperkuat hubungan militer dengan Iran, yang dilihat sebagai sekutu dalam menentang dominasi Barat di kawasan.
Kenapa Presiden Ramaphosa Bisa Kesal?
Kekesalan Presiden Ramaphosa dipicu oleh dampak diplomatik dari pernyataan Maphwanya, yang dianggap merusak upaya Afrika Selatan untuk memperbaiki hubungan dengan Amerika Serikat. Setelah kunjungan Maphwanya, hubungan dengan AS menjadi tegang, terutama karena Washington melihat Iran sebagai ancaman strategis. Ramaphosa, yang sedang bernegosiasi untuk memperkuat kerja sama ekonomi dengan AS, termasuk melalui African Growth and Opportunity Act (AGOA), menilai pernyataan tersebut “tidak membantu” dan berisiko merusak posisi Afrika Selatan di panggung global. Kantor kepresidenan menyatakan bahwa kunjungan Maphwanya ke Teheran tidak disetujui dan pernyataannya tidak mencerminkan kebijakan resmi pemerintah. Selain itu, Ramaphosa khawatir pernyataan tersebut dapat memicu persepsi bahwa Afrika Selatan condong ke blok anti-Barat, padahal negara ini berusaha menjaga netralitas dalam hubungan dengan kekuatan global seperti AS, Tiongkok, dan Rusia.
Tanggapan Jendral Afsel Atas Presiden Ramaphosa
Jenderal Maphwanya menanggapi kritikan dari Ramaphosa dengan nada hati-hati, menyatakan bahwa pernyataannya di Teheran dimaksudkan untuk memperkuat solidaritas dengan negara-negara yang mendukung isu kemanusiaan, seperti konflik di Gaza. Dalam pernyataan tertulisnya, ia menegaskan bahwa kunjungannya bertujuan untuk memperdalam kerja sama militer yang sudah ada antara Afrika Selatan dan Iran, bukan untuk membuat kebijakan luar negeri baru. Maphwanya juga meminta maaf jika pernyataannya disalahartikan, tetapi tidak secara eksplisit mencabut dukungannya terhadap Iran. Ia menegaskan bahwa sebagai kepala SANDF, fokusnya adalah memperkuat kapasitas militer Afrika Selatan, bukan mencampuri diplomasi. Namun, tanggapannya ini dianggap kurang memuaskan oleh beberapa pihak di pemerintahan, yang meminta investigasi lebih lanjut terkait kunjungan tanpa izin tersebut.
Kesimpulan: Presiden Ramaphosa Kesal Karena Jendral Afsel Dukung Iran
Kontroversi antara Presiden Cyril Ramaphosa dan Jenderal Rudzani Maphwanya menyoroti tantangan Afrika Selatan dalam menjaga keseimbangan kebijakan luar negeri di tengah dinamika geopolitik global. Dukungan Maphwanya terhadap Iran, meski didasari oleh isu kemanusiaan dan solidaritas dengan Palestina, dianggap tidak tepat waktu oleh Ramaphosa, yang sedang fokus memperbaiki hubungan dengan AS. Tanggapan hati-hati dari Maphwanya menunjukkan upaya meredam ketegangan, tetapi juga menegaskan sikapnya sendiri. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa koordinasi antara militer dan pemerintah sangat penting untuk menjaga citra netralitas Afrika Selatan. Dengan penyelidikan yang masih berlangsung, publik kini menanti langkah konkret Ramaphosa untuk memastikan kebijakan luar negeri tetap sejalan dengan kepentingan nasional.