korea-utara-meluncurkan-rudal-balistik

Korea Utara Meluncurkan Rudal Balistik. Pagi 7 November 2025 jadi momen tegang buat Asia Timur. Korea Utara kembali unjuk gigi dengan meluncurkan rudal balistik antar benua (ICBM) dari pangkalan dekat Pyongyang. Rudal ini terbang lebih dari 1.000 kilometer sebelum jatuh di Laut Jepang, tepat di luar zona ekonomi eksklusif Tokyo. Ini jadi peluncuran kedelapan tahun ini, dan yang paling provokatif sejak tes Oktober lalu. Jepang langsung aktifkan sistem peringatan nasional, Korea Selatan gelar rapat darurat, sementara Amerika Serikat ospek lewat satelit. Pyongyang bilang ini “latihan rutin”, tapi dunia tahu: ini pesan keras buat aliansi Seoul-Washington yang lagi perkuat pertahanan. INFO CASINO

Spesifikasi Rudal yang Bikin Dunia Gelisah: Korea Utara Meluncurkan Rudal Balistik

Rudal yang diluncurkan kemarin adalah varian Hwasong-19, monster baru yang pertama kali dites Oktober 2024. Panjang 28 meter, berat 100 ton, dan mampu bawa hulu ledak nuklir sampai 15.000 kilometer—cukup buat capai daratan utama Amerika. Kali ini, rudal naik vertikal sampai ketinggian 7.000 kilometer, hampir sentuh luar angkasa, sebelum turun curam dengan kecepatan hipersonik. Militer Korea Selatan bilang trajektori lofted sengaja dipilih biar sulit dicegat. Yang baru: ada indikasi multiple independently targetable reentry vehicle (MIRV)—satu rudal bisa bawa beberapa hulu ledak yang nyebar ke target berbeda. Ini lompatan teknologi besar, bikin sistem pertahanan THAAD dan Patriot yang dipasang di Guam jadi kurang efektif. Pyongyang pamer foto Kim Jong Un tepuk tangan di lokasi peluncuran, sambil bilang “kami siap balas serangan kapan saja”.

Respons Cepat dari Sekutu dan Dunia: Korea Utara Meluncurkan Rudal Balistik 

Jepang langsung protes keras. Perdana Menteri Shigeru Ishiba sebut ini “ancaman langsung bagi perdamaian”. Sirene berbunyi di Hokkaido, warga disuruh cari perlindungan. Korea Selatan balas dengan luncurkan dua rudal presisi ke laut sebagai demonstrasi. Presiden Yoon Suk Yeol janji tingkatkan kerja sama trilateral dengan AS dan Jepang, termasuk latihan bersama minggu depan. Di Washington, Gedung Putih keluarkan pernyataan: “Kami siap lindungi sekutu dengan segala cara, termasuk payung nuklir.” Dewan Keamanan PBB gelar sidang darurat malam ini, meski veto Rusia dan China pasti bikin resolusi baru mandek. China cuma bilang “semua pihak tenang”, sementara Rusia malah puji “kemajuan teknologi” Pyongyang. ASEAN juga bereaksi—Indonesia dan Malaysia minta dialog segera, takut stabilitas kawasan terganggu.

Mengapa Sekarang? Konteks Politik yang Panas

Timing nggak kebetulan. Peluncuran ini pas banget sehari setelah pemilu sela Amerika yang perkuat posisi Partai Republik. Pyongyang selalu pakai rudal buat tekan Washington saat transisi kekuasaan. Ditambah lagi, Korea Selatan lagi uji coba drone baru yang bisa nyusup ke Pyongyang, sementara AS kirim kapal induk ke Laut China Selatan. Kim Jong Un bilang ini respons atas “manuver perang” sekutu. Tapi di balik itu, ada masalah dalam negeri: ekonomi Korea Utara makin terpuruk karena sanksi dan banjir musim panas. Rudal jadi cara murah buat satukan rakyat dan pamer kekuatan. Intelijen Barat bilang stok uranium diperkaya Pyongyang sudah cukup buat 50 hulu ledak—angka yang naik dua kali lipat dalam tiga tahun.

Kesimpulan

Peluncuran rudal 7 November 2025 ini bukan cuma tes biasa—ia peringatan bahwa Semenanjung Korea masih bom waktu. Teknologi MIRV dan jangkauan ICBM bikin negosiasi denuklirisasi makin sulit. Dunia nggak boleh diam: sanksi harus lebih ketat, tapi dialog juga harus dibuka. Karena kalau ketegangan ini meledak, dampaknya nggak cuma buat Asia Timur—seluruh dunia bakal kena getahnya. Saatnya pemimpin besar duduk bareng, sebelum rudal berikutnya benar-benar bawa malapetaka. Perdamaian di kawasan ini terlalu mahal buat dipertaruhkan lagi.

 

BACA SELENGKAPNYA DI…

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *