Israel Menembak Mati 2 Remaja Palestina. Tentara Israel menembak mati dua remaja Palestina berusia 16 tahun di Yerusalem Timur pada awal November 2025. Kedua korban ditembak saat diduga melakukan serangan pisau, tapi keluarga dan saksi mata bilang mereka hanya sedang berjalan biasa. Tubuh keduanya langsung disita oleh pihak berwenang Israel dan belum dikembalikan hingga kini. Insiden ini tambah daftar panjang kematian anak-anak Palestina di Tepi Barat yang diduduki, di mana sudah 46 anak tewas sepanjang 2025 akibat tembakan pasukan Israel atau settler. BERITA BOLA
Detail Kejadian dan Tuduhan Pihak Israel: Israel Menembak Mati 2 Remaja Palestina
Kedua remaja ditembak di area sensitif Yerusalem Timur, tempat bentrokan sering terjadi. Pasukan Israel klaim mereka mencoba menusuk petugas, sehingga respons tembakan dianggap sah untuk hentikan ancaman. Namun, rekaman CCTV yang beredar tunjukkan keduanya terluka parah tapi masih hidup saat ditahan, lalu meninggal di tahanan tanpa pertolongan medis memadai. Keluarga baru diberi tahu beberapa hari kemudian bahwa anak-anak mereka sudah tewas, dan tubuh disimpan sebagai bagian dari kebijakan penahanan jenazah pelaku dugaan serangan.
Praktik Penahanan Tubuh dan Dampak pada Keluarga: Israel Menembak Mati 2 Remaja Palestina
Israel sering tahan tubuh Palestina yang tewas dalam insiden serupa, anggap sebagai alat tekanan atau hukuman kolektif. Kebijakan ini sudah divalidasi pengadilan tinggi Israel sejak 2019, meski dikecam sebagai pelanggaran hukum humaniter internasional. Bagi keluarga, ini berarti tak bisa menguburkan anak sesuai adat, tambah luka trauma yang dalam. Di kasus ini, kedua keluarga masih tunggu pemulangan jenazah, sementara protes kecil pecah di sekitar Yerusalem menuntut keadilan dan pengembalian tubuh.
Konteks Kekerasan Lebih Luas di Tepi Barat
Kematian dua remaja ini bagian dari lonjakan kekerasan sepanjang 2025, di mana pasukan Israel lakukan razia hampir setiap hari di kamp pengungsi dan kota-kota Palestina. Banyak korban adalah anak muda yang terlibat bentrokan atau sekadar ada di lokasi. Organisasi hak anak catat mayoritas tewas karena tembakan di bagian atas tubuh, tunjukkan niat membunuh bukan sekadar melumpuhkan. Kekerasan settler juga naik, sering didukung pasukan yang tak hentikan serangan.
Kesimpulan
Penembakan mati dua remaja Palestina di Yerusalem ini sorot lagi pola kekerasan sistematis di wilayah pendudukan. Dengan tubuh masih ditahan dan investigasi jarang bawa akuntabilitas, keluarga hanya bisa berduka tanpa penutup. Di tengah perhatian dunia tertuju Gaza, Tepi Barat tetap panas dengan korban sipil terus bertambah, terutama anak-anak. Insiden seperti ini perburuk siklus dendam dan jauhkan pros-router pek damai, tapi tuntutan keadilan dari masyarakat Palestina tak pernah padam.