rusia-ancam-ukraina-jika-menolak-rencana-damai

Rusia Ancam Ukraina Jika Menolak Rencana Damai. Ketegangan perang Rusia-Ukraina memasuki fase baru yang mencekam di akhir November 2025. Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kesiapannya merebut wilayah tambahan di Ukraina jika Kyiv menolak rencana damai 28 poin yang didukung AS. Pernyataan itu disampaikan Putin pada 21 November melalui pidato di Moskow, di mana ia sebut proposal tersebut “bisa jadi dasar” perdamaian, tapi tuntut diskusi mendalam. Rencana itu, yang bocor ke media Barat, tuntut Ukraina serahkan Donetsk dan Luhansk sepenuhnya ke Rusia, batasi militer, dan netralitas permanen—syarat yang Zelenskyy anggap sebagai “penyerahan”. Trump beri batas waktu seminggu bagi Kyiv untuk terima, ancam potong bantuan senjata dan intelijen. “Kami tak akan mundur dari tujuan kami,” tegas Putin, nada suaranya tegas tapi hati-hati. Ancaman ini bukan sekadar kata-kata; ia datang di tengah kemajuan Rusia di Donetsk, picu kekhawatiran Eropa soal eskalasi musim dingin. BERITA BASKET

Rencana Damai 28 Poin yang Kontroversial: Rusia Ancam Ukraina Jika Menolak Rencana Damai

Rencana damai yang didorong Trump sejak Agustus 2025 di Alaska Summit tuntut konsesi besar dari Ukraina. Kyiv harus tarik pasukan dari Donetsk dan Luhansk tak terokupasi, jadikan wilayah itu “zona penyangga netral” diakui Rusia. Rusia pegang Crimea, Kherson, dan Zaporizhia selamanya, sementara Ukraina batasi militer jadi 50 persen kekuatan saat ini, tinggalkan “senjata kunci” seperti rudal jarak jauh, dan larang bergabung NATO. Imbalannya: jaminan keamanan AS, dana rekonstruksi dari aset Rusia beku, dan bantuan internasional. Bocornya detail pada 20 November picu reaksi berantai: ultranasionalis Rusia kritik karena tak beri seluruh wilayah aneksasi, sementara Zelenskyy bilang rencana itu “hilangkan martabat Ukraina”. Putin sebut proposal “bisa dibahas”, tapi Kremlin tolak kompromi, tuntut “akar masalah” seperti “denazifikasi” dan netralitas konstitusional. Ini mirip tuntutan Istanbul 2022, tapi kini Rusia kuasai 20 persen Ukraina.

Pernyataan Putin dan Ancaman Wilayah: Rusia Ancam Ukraina Jika Menolak Rencana Damai

Putin sampaikan ancaman itu di forum ekonomi Moskow, sebut penolakan Ukraina bakal “paksa kami lindungi kepentingan kami dengan segala cara”. Ia sebut rencana AS “menarik” tapi kurang jaminan NATO tak ekspansi dan netralitas Ukraina. Kremlin bilang diskusi butuh waktu, tapi sumber dekat Putin sebut proposal “provokasi” karena tak beri kemenangan total. Ancaman ini bukan kosong: Rusia sudah ambil Pokrovsk di Donetsk akhir pekan lalu, dan militer siaga untuk serang Kharkiv jika negosiasi gagal. Zelenskyy, dalam pidato nasional 21 November, bilang Ukraina hadapi “pilihan sulit: kehilangan martabat atau mitra utama”. Ia tolak proposal tapi puji upaya Trump, bilang Kyiv siap counter-proposal dengan Eropa. Trump, via Fox News, tuntut Kyiv terima dalam seminggu atau “hilang dukungan”—meski pejabat AS bantah ancaman potong intelijen.

Respons Eropa dan Ukraina

Eropa langsung bersikap tegas. Kanselir Jerman Friedrich Merz, Presiden Prancis Emmanuel Macron, dan PM Inggris Keir Starmer janji dukung “damai adil” untuk Ukraina dalam panggilan 21 November. Merz bilang Eropa “tak berubah” dukung kedaulatan Kyiv, sementara Macron sebut proposal AS “skandal” karena legitimasi aneksasi Rusia. Zelenskyy, dalam pertemuan virtual dengan pemimpin Barat, sebut rencana itu “penyerahan” tapi siap negosiasi jika Rusia tarik pasukan. Ukraina tolak kompromi wilayah, tuntut sanksi lebih ketat pada Rusia. Di lapangan, Ukraina lanjut serang drone di Kursk, tewaskan 50 tentara Rusia. Eropa janji tambah bantuan: Jerman kirim 10 tank Leopard baru, Prancis 20 rudal SCALP. Ini kontras dengan Trump yang tekan “damai cepat”, tapi Eropa khawatir eskalasi jika Kyiv tolak—Rusia bisa ambil lebih banyak daratan musim dingin.

Kesimpulan

Ancaman Rusia ambil wilayah tambahan jika Ukraina tolak rencana damai AS jadi bom waktu di perundingan yang rapuh. Putin tegas pegang tujuan perang, sementara Zelenskyy hadapi dilema antara martabat dan dukungan Barat. Proposal 28 poin beri Rusia banyak, tapi tak cukup untuk Kremilin—picu risiko eskalasi. Eropa jadi penyeimbang, janji dukung Kyiv tanpa kompromi wilayah. Perang ini tak kunjung usai; negosiasi butuh keseimbangan, bukan ultimatum. Bagi Ukraina, ini ujian ketangguhan—damai adil atau perjuangan panjang. Dunia tunggu langkah Trump, tapi satu hal pasti: musim dingin ini bakal dingin sekaligus panas.

BACA SELENGKAPNYA DI…

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *