Insektisida Menyebabkan 4 Keluarga Turis Meninggal di Turki. Pada awal November 2025, sebuah tragedi mengerikan menimpa liburan keluarga di Istanbul, Turki, ketika empat anggota keluarga asal Jerman-Turki meninggal dunia akibat dugaan keracunan insektisida. Keluarga Böcek—Servet, 38 tahun, istrinya Çiğdem, 27 tahun, serta dua anak mereka Kadir, 6 tahun, dan Masal, 3 tahun—tiba di kota bersejarah itu untuk beristirahat singkat. Namun, apa yang seharusnya menjadi momen bahagia berubah menjadi mimpi buruk setelah mereka jatuh sakit pada 12 November, dan meninggal secara berturut-turut dalam lima hari. Awalnya dicurigai sebagai keracunan makanan dari camilan jalanan khas Turki seperti kerang isi dan kentang panggang, investigasi kini mengarah pada paparan gas beracun dari proses pembasmian hama di hotel mereka. Pada 26 November ini, penyelidikan masih berlangsung intensif, dengan 11 orang ditahan termasuk pemilik hotel dan pekerja pengendalian hama. Dua turis lain yang menginap di tempat yang sama juga dirawat karena gejala serupa, memicu evakuasi darurat dan kekhawatiran luas tentang keamanan akomodasi wisata. Insiden ini bukan hanya kehilangan nyawa, tapi juga sorotan tajam pada risiko tersembunyi di balik industri pariwisata yang ramai. BERITA BASKET
Kronologi Tragedi: Insektisida Menyebabkan 4 Keluarga Turis Meninggal di Turki
Liburan keluarga Böcek dimulai dengan semangat tinggi di Istanbul, kota yang menyambut jutaan pengunjung setiap tahun. Mereka tiba pada 11 November dan menginap di sebuah hotel di distrik Fatih, kawasan wisata populer dekat atraksi bersejarah. Pada 12 November, setelah menikmati makanan jalanan di lingkungan Ortaköy—termasuk kerang isi, daging sapi panggang, dan permen manis—mereka mulai merasakan mual dan muntah hebat. Anak-anak, Kadir dan Masal, dilarikan ke rumah sakit pada 13 November dan meninggal dunia malam itu. Çiğdem menyusul keesokan harinya, sementara Servet bertahan lebih lama di unit perawatan intensif sebelum akhirnya meninggal pada 17 November. Jenazah ibu dan anak-anak dimakamkan di desa keluarga mereka di Bolvadin, sekitar 240 kilometer dari Ankara, di hadapan ratusan pelayat yang berduka. Sementara itu, dua turis lain melaporkan gejala serupa pada 15 November, mendorong otoritas untuk menutup hotel dan memeriksa ventilasi kamar. Presiden Recep Tayyip Erdogan ikut angkat bicara pada 19 November, menjanjikan penyelidikan “dengan sensitivitas maksimal” untuk menghindari kepanikan di kalangan wisatawan asing.
Perkembangan Penyelidikan: Insektisida Menyebabkan 4 Keluarga Turis Meninggal di Turki
Investigasi awal oleh jaksa Istanbul langsung menyasar pedagang makanan jalanan, dengan empat vendor ditahan atas dugaan kontaminasi. Namun, laporan forensik awal pada 17 November mengubah arah: kemungkinan keracunan makanan dinilai rendah, sementara bukti kimiawi menunjukkan paparan zat beracun dari lingkungan hotel. Analisis jejak di kamar keluarga mengungkap residu aluminium phosphide, insektisida yang bereaksi dengan kelembaban udara menghasilkan gas fosfin mematikan. Zat ini disemprotkan di kamar lantai dasar untuk membasmi kutu busuk, dan diduga menyebar ke kamar Böcek di lantai satu melalui saluran ventilasi kamar mandi. Pada 18 November, jumlah tersangka naik menjadi 11: pemilik hotel, dua karyawan, dua pekerja pengendalian hama, serta pemilik kafe dan toko roti terdekat. Tujuh di antaranya dibawa ke pengadilan utama Istanbul untuk proses lebih lanjut, sementara hotel disegel untuk pengujian sampel dari seprai, bantal, dan botol air. Direktorat Kesehatan Provinsi Istanbul, dipimpin Dr. Abdullah Emre Guner, bekerja sama dengan Institut Kedokteran Forensik untuk konfirmasi akhir, dengan hasil lengkap diharapkan minggu depan.
Faktor Risiko dan Kasus Serupa
Aluminium phosphide, yang biasa digunakan di pertanian Turki, terbukti berbahaya ketika disalahgunakan untuk pengendalian hama di ruang tertutup. Gas fosfin yang dihasilkannya menyebabkan gejala awal seperti muntah dan batuk berdarah, lalu kegagalan organ dalam hitungan jam—mirip dengan yang dialami keluarga Böcek. Ini bukan kasus pertama; pada 2023, penyalahgunaan zat serupa untuk kutu busuk di sebuah apartemen Turki menewaskan seorang ibu dan anaknya, serta merawat 10 orang lainnya. Tahun 2024 mencatat insiden serupa di berbagai wilayah, menyoroti kurangnya regulasi ketat pada layanan fumigasi di hotel-hotel kecil. Di Istanbul, yang menerima 16 juta turis pada 2024, tekanan untuk menjaga standar kebersihan sering bertabrakan dengan biaya rendah, membuat ventilasi buruk dan pemantauan zat kimia menjadi celah rawan. Pakar kesehatan memperingatkan bahwa paparan tidak langsung melalui udara bisa mematikan bagi anak-anak dan orang dengan riwayat medis, seperti yang mungkin dialami keluarga ini. Kasus ini memicu audit nasional terhadap ribuan akomodasi wisata, dengan fokus pada sertifikasi pengendalian hama.
Kesimpulan
Tragedi keluarga Böcek di Istanbul adalah pengingat pilu akan harga yang dibayar wisatawan atas liburan yang seharusnya aman. Dengan penyelidikan yang mengungkap insektisida sebagai biang kerok, bukan makanan jalanan, otoritas Turki kini dihadapkan pada tugas berat: memperketat aturan fumigasi dan memastikan transparansi di sektor pariwisata. Penahanan 11 orang menjanjikan akuntabilitas, tapi kehilangan empat nyawa tak tergantikan, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan komunitas. Bagi jutaan pengunjung yang datang setiap tahun, insiden ini mendorong kehati-hatian—pilih akomodasi terverifikasi dan laporkan gejala aneh segera. Di balik duka, semoga ini menjadi katalisator perubahan, agar Istanbul tetap menjadi surga wisata tanpa bayang-bayang bahaya tersembunyi.