Banjir di Sri Lanka Membuat 40 Orang Meninggal Dunia. Bencana alam melanda Sri Lanka dengan ganas. Hujan deras yang tak henti-hentinya sejak minggu lalu memicu banjir bandang dan longsor di berbagai daerah, menewaskan setidaknya 40 orang hingga Kamis malam, 27 November 2025. Pusat Manajemen Bencana (DMC) negara itu melaporkan 25 kematian di wilayah pegunungan Badulla dan Nuwara Eliya saja, sementara 21 orang masih hilang akibat longsor. Lebih dari 4.000 keluarga terdampak, dengan ribuan rumah terendam dan infrastruktur lumpuh. Pemerintah tutup kereta api penumpang dan jalan raya di beberapa area, sementara Badai Siklon Ditwah mendekat dari timur, ancam tambah korban. Ini bencana terburuk sejak Juni 2024, saat 26 orang tewas. INFO TOGEL
Dampak Hujan Deras di Daerah Pegunungan: Banjir di Sri Lanka Membuat 40 Orang Meninggal Dunia
Hujan lebat dimulai sejak pekan lalu, tapi puncaknya akhir pekan kemarin. Di Badulla dan Nuwara Eliya, daerah teh pegunungan selatan tengah sekitar 300 km dari Kolombo, longsor lumpur dan batu amuk 16 rumah. DMC bilang 16 orang terkubur hidup-hidup, termasuk pekerja kebun teh Malaiyaha Tamil yang tinggal di lereng curam. Di Nuwara Eliya, banjir Gal Oya meluap setelah Waduk Senanayaka Samudraya penuh, genangi jalan dan sawah. Video amatir tunjukkan warga naik atap rumah hindari air setinggi dada, sementara mobil hanyut di jalan raya. Total 10 orang luka-luka, dan 21 hilang—banyak yang terperangkap di lereng saat longsor. Cuaca ekstrem ini, dipicu monsun dan Badai Siklon Ditwah yang bergerak ke utara-barat laut, beri curah hujan 250 mm di timur laut.
Upaya Pencarian dan Penyelamatan: Banjir di Sri Lanka Membuat 40 Orang Meninggal Dunia
Tim penyelamat kerja tanpa henti. Lebih dari 200 unit pemadam dan relawan gelar operasi di Badulla, angkut puing dengan ekskavator dan tangan kosong. Kereta api berhenti di pegunungan setelah rel tertutup lumpur dan pohon tumbang—pekerja TV lokal tunjukkan tim bersihkan rel manual. Di Kolombo, banjir genangi distrik barat seperti Puttalam, warga berjalan kaki lewat air setinggi lutut. Pemerintah evakuasi 4.000 keluarga ke penampungan darurat, bagi makanan dan obat. Ujian nasional A/L ditunda dua hari karena banjir. DMC beri peringatan merah banjir di selatan, dan kuning untuk hujan lebat di utara. Analis cuaca bilang siklon ini perkuat monsun, bikin banjir lebih sering akibat perubahan iklim.
Respons Pemerintah dan Bantuan
Pemerintah gerak cepat. Perdana Menteri Dinesh Gunawardena umumkan dana darurat 500 juta rupee Sri Lanka untuk korban, termasuk rekonstruksi dan bantuan sementara. Militer kerahkan helikopter evakuasi di daerah terpencil, sementara relawan bagi selimut dan air bersih. Kolombia dan India tawarkan bantuan logistik, tapi fokus utama internal: tutup sekolah dan kantor di 10 distrik. Menteri Bencana Resah Perera bilang, “Kami prioritaskan pencarian hilang, tapi cuaca buruk hambat.” Warga kritik lambatnya peringatan dini—banyak yang tak evakuasi tepat waktu karena sinyal lemah di pegunungan. Ini bencana kedua tahun ini, setelah 17 tewas di Desember 2024.
Kesimpulan
Banjir dan longsor di Sri Lanka tewaskan 40 orang adalah pukulan telak bagi negara yang bergantung monsun untuk irigasi. Dari 25 kematian di Badulla sampai 21 hilang, bencana ini ingatkan urgensi sistem peringatan dini dan infrastruktur tahan bencana. Pemerintah beri dana dan evakuasi, tapi korban butuh bantuan cepat—terutama pekerja kebun miskin. Saat Badai Siklon Ditwah mendekat, situasi bisa tambah parah. Semoga upaya penyelamatan selamatkan nyawa tersisa, dan pelajaran ini cegah tragedi serupa. Sri Lanka kuat—mari bangkit bareng.