banjir-besar-terjadi-di-perbatasan-thailand-malaysia

Banjir Besar Terjadi di Perbatasan Thailand-Malaysia. Bencana alam melanda perbatasan Thailand-Malaysia pada akhir November 2025, saat banjir besar akibat hujan deras berhari-hari tenggelamkan wilayah selatan kedua negara. Di Thailand, Provinsi Songkhla jadi pusatnya, dengan kota Hat Yai lumpuh total setelah curah hujan 335 milimeter sehari—terderas dalam 300 tahun. Air setinggi 2,5 meter sapu jalan, rumah, dan rumah sakit, sebabkan 33 korban jiwa dan evakuasi massal 50 ribu orang. Di Malaysia, delapan negara bagian seperti Kelantan dan Perlis terdampak, dengan 15.000 warga mengungsi dan ribuan wisatawan Malaysia terjebak di Hat Yai. Pemerintah kedua negara naikkan status darurat, libatkan militer untuk evakuasi, sementara BMKG regional peringatkan hujan lanjut hingga akhir pekan. Banjir ini bukan cuma bencana lokal; ia soroti dampak perubahan iklim yang ubah musim hujan jadi ancaman ekstrem, di saat ASEAN hadapi cuaca tak menentu. BERITA BASKET

Penyebab Hujan Ekstrem: Monsoon dan Perubahan Iklim: Banjir Besar Terjadi di Perbatasan Thailand-Malaysia

Hujan deras mulai mengguyur sejak 19 November, dipicu kombinasi monsoon trough, sel rendah tekanan, dan La Niña yang tingkatkan intensitas. Di Hat Yai, puncaknya 21 November dengan 335 mm curah hujan—rekor harian tertinggi sejak catatan 300 tahun lalu, lewati 428 mm pada 2010. Total tiga hari, wilayah selatan Thailand terima 630 mm air, overload sungai seperti Nakhon Si Thammarat dan kanal U-Tapao. Di perbatasan, aliran air dari pegunungan Khao Kho Hong konvergen ke perbatasan, banjiri Padang Besar dan Sadao di Thailand serta Wang Kelian di Malaysia. Badan Meteorologi Thailand peringatkan hujan lebat lanjut hingga Rabu, sementara di Malaysia, NADMA catat curah hujan 200 mm di Kelantan. Pakar iklim sebut ini bukti perubahan iklim: frekuensi ekstrem naik 50 persen sejak 2000, buat drainase kota usang tak mampu tangani volume air sebesar ini.

Dampak di Thailand: Hat Yai Lumpuh, 33 Korban Jiwa: Banjir Besar Terjadi di Perbatasan Thailand-Malaysia

Songkhla jadi episentrum, dengan Hat Yai—kota perdagangan utama—tenggelam total. Air naik cepat malam 23 November, setinggi 4 meter di pusat kota, isolasi 250.000 keluarga dan tenggelamkan pasar serta jalan nasional. Rumah sakit Hat Yai evakuasi 30 bayi baru lahir via perahu karet, sementara listrik padam picu sengatan fatal—33 korban jiwa, termasuk delapan dari kecelakaan terkait banjir. Lebih dari 2 juta orang terdampak di 10 provinsi selatan seperti Surat Thani, Krabi, dan Pattani, dengan kerugian ekonomi capai 500 juta baht di Songkhla saja. Wisatawan Malaysia—sekitar 4.000 orang—terjebak di hotel, paksa pemerintah tutup perbatasan sementara. Di perbatasan, longsor di Jalan Wang Kelian tinggalkan 400 orang terdampar, termasuk 300 warga Malaysia yang pulang dari Thailand. Aktivitas lumpuh: sekolah tutup, kereta api berhenti, dan nelayan dilarang berlayar.

Dampak di Malaysia: 15.000 Mengungsi, Kerjasama Bilateral

Di Malaysia, banjir melanda delapan negara bagian seperti Kelantan, Perak, dan Johor, dengan 15.000 warga mengungsi ke 90 pusat evakuasi. Di Perlis dan Kedah dekat perbatasan, air dari Thailand alir masuk via sungai Golok, banjiri Padang Besar dan tutup jalan ringan. Lebih dari 700 ribu rumah tangga terdampak, dengan delapan korban jiwa dari sengatan listrik. Konsulat Malaysia pantau 1.000 warga yang terjebak di Hat Yai, kirim bantuan makanan dan evakuasi via ICQS Bukit Kayu Hitam—pergerakan turun drastis dari 9.950 ke 5.812 orang sehari. Di Kelantan, 64.000 evakuee jadi rekor, sementara di Johor, Kota Tinggi evakuasi 1.174 orang. Ekonomi terganggu: kebun kopi rusak, tambak ikan hancur, dan wisata lintas batas lumpuh. NADMA aktifkan dapur umum sajikan 20.000 makanan sehari, sementara Kementerian Luar Negeri pantau wisatawan.

Respons Pemerintah: Darurat Level 4 dan Bantuan Militer

Thailand naikkan status darurat level 4 di Songkhla 26 November, libatkan Angkatan Laut dengan kapal induk Chakri Naruebet, 14 perahu, dan dua helikopter untuk evakuasi. Perdana Menteri Anutin Charnvirakul perintahkan tambah pompa air dan kompensasi 10.000 baht per keluarga, sementara Royal Irrigation pasang puluhan pompa alirkan air ke Danau Songkhla. Di Malaysia, NADMA evakuasi 95.000 orang di timur laut, dengan TNI kirim C-130 angkut bantuan. Kerjasama bilateral: Thailand-Malaysia koordinasi evakuasi perbatasan, tutup sementara pos lintas seperti Bukit Kayu Hitam. BMKG regional peringatkan hujan lanjut, tapi curah mulai turun Rabu—harap air surut akhir pekan. Kritik muncul soal drainase usang, tapi respons cepat minimalkan korban lebih lanjut.

Kesimpulan

Banjir besar di perbatasan Thailand-Malaysia akibat hujan terderas 300 tahun jadi bencana lintas negara yang tebus 41 nyawa dan ungsi 65 ribu orang, soroti urgensi adaptasi iklim di ASEAN. Dari Hat Yai lumpuh hingga Kelantan banjir, dampaknya luas—ekonomi rugi miliaran, wisata terhenti, dan infrastruktur uji ketangguhan. Respons darurat level 4 dan kerjasama bilateral tunjukkan kemajuan, tapi pelajaran 2010 ingatkan: investasi drainase dan peringatan dini krusial. Saat air surut, Thailand dan Malaysia bangkit lagi, tapi harapannya, bencana ini dorong perubahan permanen. Di Asia Tenggara rentan cuaca ekstrem, solidaritas seperti ini jadi kunci—karena banjir tak kenal batas.

BACA SELENGKAPNYA DI…

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *