Cuaca Ekstrem Meluas ke Papua & Maluku. Cuaca ekstrem kini meluas ke wilayah timur Indonesia, khususnya Papua dan Maluku. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperpanjang peringatan dini hingga 14 Februari 2026, dengan potensi hujan lebat hingga sangat lebat, disertai petir dan angin kencang di hampir seluruh Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara. Curah hujan yang tinggi ini meningkatkan risiko banjir, banjir bandang, longsor, serta gelombang tinggi di perairan sekitar. Daerah yang paling rentan meliputi Jayapura, Merauke, Sorong, Manokwari, Ambon, Ternate, hingga Kepulauan Aru dan Kei. Situasi ini menuntut kewaspadaan ekstra dari masyarakat, pemerintah daerah, dan operator transportasi karena dampaknya bisa mengganggu mobilitas dan keselamatan warga. REVIEW FILM
Penyebab dan Pola Cuaca Ekstrem: Cuaca Ekstrem Meluas ke Papua & Maluku
Fenomena cuaca ekstrem di Papua dan Maluku dipicu oleh kombinasi beberapa faktor meteorologi yang aktif bersamaan. BMKG mencatat adanya daerah konvergensi angin di lapisan rendah yang memanjang dari Laut Banda hingga Laut Arafura, ditambah massa udara lembab yang tebal dari Samudra Pasifik bagian barat. Fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) fase aktif juga turut memperkuat pembentukan awan hujan konvektif yang besar dan bertahan lama.
Curah hujan harian diprediksi mencapai 50–150 mm per hari di zona merah, bahkan lebih dari 150 mm dalam 24 jam di titik-titik tertentu. Hujan sering turun secara sporadis namun intens, biasanya mulai sore hingga dini hari, disertai kilat dan petir. Angin kencang dengan kecepatan 25–45 km/jam juga berpotensi terjadi, terutama di wilayah pesisir dan kepulauan. Gelombang laut di Laut Banda, Laut Seram, dan Laut Arafura diprakirakan mencapai 2,5–4 meter, bahkan lebih di zona terbuka.
Wilayah berisiko tinggi meliputi:
Papua: Jayapura, Merauke, Pegunungan Bintang, Yahukimo, dan sekitar Pegunungan Jayawijaya
Papua Barat: Sorong, Manokwari, Kaimana, dan Teluk Bintuni
Maluku: Ambon, Seram, Buru, dan Kepulauan Aru
Maluku Utara: Ternate, Tidore, Halmahera Selatan, dan Pulau Morotai
Potensi ini diperkirakan tetap tinggi hingga pertengahan Februari, dengan kemungkinan peningkatan jika pola konvergensi semakin kuat.
Dampak terhadap Masyarakat dan Infrastruktur: Cuaca Ekstrem Meluas ke Papua & Maluku
Hujan lebat yang sudah turun dalam beberapa hari terakhir mulai menimbulkan dampak nyata. Di Jayapura dan sekitarnya, genangan air melanda beberapa ruas jalan utama dan permukiman rendah. Di Merauke, banjir sungai kecil menyebabkan ribuan hektare lahan pertanian terendam. Di Sorong dan Manokwari, longsor tebing menutup akses jalan provinsi, memaksa penutupan sementara dan pengalihan rute.
Di Maluku, Ambon dan Seram melaporkan luapan sungai yang merendam rumah warga dan pasar tradisional. Di Kepulauan Aru dan Kei, gelombang tinggi mengganggu pelayaran antarpulau, sehingga beberapa trayek kapal cepat ditangguhkan. Nelayan tradisional di Maluku Utara juga memilih menunda melaut karena risiko tinggi.
Dampak lain terasa pada akses pendidikan dan kesehatan. Beberapa sekolah di daerah terpencil terpaksa diliburkan sementara, sementara pasokan obat-obatan dan bahan pokok tertahan. Petani di dataran rendah melaporkan kerusakan tanaman padi, jagung, dan sayuran akibat genangan berkepanjangan. Risiko penyakit akibat air tercemar juga meningkat, terutama di kampung-kampung yang akses air bersihnya terbatas.
Langkah Antisipasi dan Imbauan
Pemprov Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara bersama BPBD setempat telah mengaktifkan status siaga banjir dan longsor. Tim reaksi cepat dikerahkan ke daerah rawan, lengkap dengan alat berat untuk pembersihan jalan dan evakuasi darurat. Posko bantuan didirikan di tingkat kecamatan dan desa, menyediakan tenda, makanan siap saji, air bersih, dan obat-obatan.
BMKG mengimbau masyarakat untuk:
Menghindari aktivitas di lereng curam, tebing, atau tepi sungai saat hujan deras
Memantau informasi cuaca melalui aplikasi resmi BMKG atau radio lokal
Menyiapkan tas siaga berisi dokumen penting, pakaian ganti, senter, dan makanan kaleng
Melaporkan tanda-tanda bahaya seperti retakan tanah, pohon miring, atau air sungai yang keruh dan naik cepat
Nelayan dan operator kapal diminta menunda pelayaran jika gelombang sudah di atas 2,5 meter. Pemerintah daerah juga meminta warga di zona merah untuk mengungsi sementara jika hujan tak kunjung reda.
Kesimpulan
Cuaca ekstrem yang meluas ke Papua dan Maluku menjadi tantangan baru bagi wilayah timur Indonesia di musim hujan ini. Dengan curah hujan yang bisa melebihi 150 mm per hari dan risiko banjir, longsor, serta gelombang tinggi yang tinggi, kewaspadaan kolektif menjadi kunci utama mengurangi korban dan kerugian. Pemerintah daerah dan masyarakat perlu bekerja sama erat, memantau prakiraan cuaca secara rutin, serta siap evakuasi jika diperlukan. Semoga hujan segera mereda dan wilayah Papua serta Maluku bisa kembali aman bagi seluruh warganya. Tetap waspada, saling mengingatkan, dan ikuti imbauan resmi selama periode ini berlangsung.