Deforestasi Picu Banjir Mematikan di Sumatra

Deforestasi Picu Banjir Mematikan di Sumatra. Banjir bandang dan longsor yang melanda beberapa kabupaten di Sumatra Barat, Riau, dan Sumatra Utara sejak 17–19 Februari 2026 menewaskan sedikitnya 21 orang, dengan 14 orang masih dinyatakan hilang hingga 20 Februari. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan bahwa mayoritas korban dan kerusakan terjadi di daerah yang mengalami deforestasi parah dalam satu dekade terakhir. Curah hujan tinggi memang menjadi pemicu langsung, namun laju penebangan hutan untuk perkebunan sawit, tambang, dan perambahan liar membuat tanah kehilangan daya serap air, sehingga aliran permukaan meningkat drastis dan longsor mudah terjadi. Kejadian ini menjadi pengingat pahit bahwa deforestasi bukan lagi isu lingkungan semata, melainkan penyebab utama bencana hidrometeorologi mematikan di Sumatra. BERITA TERKINI

Kronologi Bencana dan Kerugian Terbesar: Deforestasi Picu Banjir Mematikan di Sumatra

Hujan ekstrem mulai mengguyur wilayah barat Sumatra sejak malam 17 Februari dengan intensitas 150–280 mm dalam 24 jam di beberapa titik. Akibatnya:
Di Kabupaten Agam dan Limapuluh Kota (Sumbar), longsor menimbun 9 rumah dan menewaskan 8 orang, sementara banjir bandang di Batang Anai merendam ribuan rumah dan memutus akses jalan nasional Padang–Bukittinggi selama 14 jam.
Di Rokan Hulu dan Kampar (Riau), banjir bandang dari aliran Sungai Siak dan Kampar menewaskan 7 orang dan mengungsi lebih dari 18.000 jiwa.
Di Tapanuli Selatan dan Mandailing Natal (Sumut), longsor di lereng Gunung Sorik Marapi dan Gunung Lubukraya menimbun 5 rumah dan menewaskan 6 orang.
Total kerugian material sementara diperkirakan mencapai Rp 1,2 triliun, dengan kerusakan terparah pada infrastruktur jalan (32 titik putus), jembatan (14 unit), dan lahan pertanian seluas lebih dari 8.000 hektare. BNPB mencatat bahwa 92% lokasi bencana berada di kawasan yang mengalami deforestasi lebih dari 40% dalam 10 tahun terakhir, terutama akibat konversi hutan primer menjadi perkebunan sawit dan tambang batubara.

Hubungan Deforestasi dengan Banjir Mematikan: Deforestasi Picu Banjir Mematikan di Sumatra

Data citra satelit dan laporan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan bahwa tutupan hutan di Sumatra menurun sekitar 1,2 juta hektare antara 2015–2025, dengan Sumatra Barat, Riau, dan Sumatra Utara termasuk provinsi penyumbang terbesar. Hilangnya hutan primer mengurangi kapasitas tanah menahan air hujan hingga 70–80%, sehingga aliran permukaan meningkat tajam dan longsor mudah terjadi di lereng curam. Selain itu, pembukaan lahan tanpa drainase yang baik membuat air langsung mengalir ke sungai dan pemukiman tanpa terserap. Pakar hidrologi dari IPB University menyatakan bahwa banjir bandang di daerah deforestasi berat bisa 3–5 kali lebih cepat dan lebih besar dibandingkan daerah berhutan lebat. Kondisi ini diperparah oleh pembangunan permukiman dan jalan tanpa memperhitungkan zona resapan air, sehingga bencana yang seharusnya bisa diredam menjadi mematikan.
Upaya Penanganan dan Respons Pemerintah

BPBD provinsi dan kabupaten langsung menggelar posko darurat sejak 18 Februari malam. Evakuasi massal dilakukan di 42 titik, dengan 18.000 lebih jiwa mengungsi ke balai desa, masjid, dan sekolah. Bantuan logistik berupa makanan siap saji, selimut, tenda, dan obat-obatan sudah didistribusikan ke 29 titik pengungsian. Presiden Prabowo Subianto melalui Sekretariat Kabinet menyatakan duka cita dan memerintahkan percepatan penanganan serta rehabilitasi. Kementerian PUPR menurunkan tim untuk membuka akses jalan darurat, sementara Kementerian Sosial mengalokasikan dana siaga Rp 2,5 miliar tahap awal. KLHK dan Kementerian ATR/BPN diminta segera mengevaluasi izin konsesi di daerah rawan longsor. BMKG memperpanjang peringatan dini hingga 23 Februari dengan potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang di Sumatra bagian barat dan tengah.

Kesimpulan

Banjir dan longsor mematikan yang menewaskan puluhan orang di Sumatra pada 17–19 Februari 2026 menegaskan bahwa deforestasi adalah salah satu pemicu utama bencana hidrometeorologi di wilayah ini. Meskipun curah hujan ekstrem menjadi faktor pemicu langsung, hilangnya tutupan hutan membuat dampaknya jauh lebih parah dan cepat. Di tengah Februari 2026, kejadian ini menjadi peringatan keras bagi pemerintah dan masyarakat bahwa pembangunan ekonomi tidak boleh mengorbankan fungsi lindung hutan. Respons cepat penanganan bencana sudah berjalan, tapi solusi jangka panjang terletak pada penghentian deforestasi ilegal, restorasi lahan kritis, dan penataan ruang yang lebih bijak. Semoga musibah ini mendorong langkah nyata untuk melindungi hutan tersisa di Sumatra—sebelum banjir dan longsor berikutnya datang dengan korban yang lebih banyak lagi.

BACA SELENGKAPNYA DI…

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *