Hizbullah Mendesak Paus Leo Menolak Agresi Israel. Di tengah ketegangan yang masih membara di perbatasan Lebanon-Israel, kelompok Hizbullah mengirim pesan tegas kepada Paus Leo XIV jelang kunjungan kepausannya ke Beirut. Pada 29 November 2025, melalui saluran media sosial resminya, Hizbullah mendesak pemimpin Gereja Katolik itu untuk menolak “ketidakadilan dan agresi” Israel terhadap Lebanon. Pesan itu datang tepat saat Paus Leo bersiap tiba di Lebanon pada Minggu, 30 November, untuk kunjungan tiga hari yang mencakup misa terbuka di tepi pantai Beirut—diharapkan tarik 120.000 orang—dan pertemuan antaragama di pusat kota. Ini bukan sekadar seruan politik; ia campuran antara komitmen damai dan perlawanan, di mana Hizbullah klaim hormati gencatan senjata November 2024 sambil tuntut akhir serangan Israel yang berlanjut. Kunjungan Paus, yang baru saja mendarat di Turki, jadi momen krusial di Lebanon yang masih luka oleh perang satu tahun lalu. INFO CASINO
Pesan Hizbullah: Komitmen Damai dan Penolakan Agresi: Hizbullah Mendesak Paus Leo Menolak Agresi Israel
Pesan Hizbullah, yang diterbitkan Sabtu pagi, dimulai dengan nada kooperatif. “Kami di Hizbullah manfaatkan kesempatan kunjungan muliamu ke Lebanon untuk tegaskan komitmen kami pada hidup bersama,” tulisnya, seolah mengakui peran Lebanon sebagai jembatan peradaban antara Kristen dan Islam. Kelompok itu juga tekankan dukungan pada demokrasi konsensual, keamanan internal, dan kedaulatan nasional. Tapi nada cepat berubah jadi tuntutan: Hizbullah komitmen berdiri bersama tentara dan rakyat Lebanon lawan “agresi dan pendudukan” Israel, sebut apa yang dilakukan Tel Aviv sebagai “agresi berkelanjutan yang tak bisa diterima.” Mereka andalkan Paus untuk tolak “ketidakadilan dan agresi” yang dialami Lebanon dari “penjajah Zionis dan pendukungnya.” Pesan itu tutup dengan harap Paus sebarkan damai, bebaskan Lebanon, akhiri agresi, dan dukung yang tertindas—seperti yang selalu dilakukan pemimpin Gereja.
Konteks Kunjungan Paus dan Pidato Pemimpin Hizbullah: Hizbullah Mendesak Paus Leo Menolak Agresi Israel
Kunjungan Paus Leo XIV ke Lebanon jadi sorotan utama di kawasan yang retak oleh konflik. Setelah kunjungan ke Turki pada 28 November—di mana ia bertemu pemimpin agama di Gereja Mor Ephrem—pemimpin Vatikan ini tiba di Beirut untuk perjalanan tiga hari. Agenda mencakup misa besar di waterfront Beirut dan dialog antaragama, yang diharapkan tarik umat dari berbagai keyakinan di negara majemuk itu. Pemimpin Hizbullah, Naim Qassem, sambut kunjungan ini dalam pidato Jumat malam, sebut itu “momen krusial” dan tugaskan anggota antar surat ke Paus yang juga dipublikasi. Qassem tekankan Hizbullah hormati gencatan senjata November 2024—yang akhiri perang terbuka dua bulan—dan tuntut hentikan serangan Israel yang rutin. Ia doakan Paus sebarkan damai, bebaskan Lebanon dari agresi, dan dukung yang tertindas, seperti yang selalu dilakukan pemimpin Gereja.
Respons Pemerintah Lebanon dan Tekanan Internasional
Pemerintah Lebanon, di bawah tekanan AS dan kekhawatiran serangan Israel melebar, komitmen bongkar Hizbullah—langkah yang ditolak kelompok itu. Patriark Maronit Beshara al-Rahi, dalam pernyataan terpisah, desak Hizbullah serahkan senjata dan “bebaskan diri dari Iran,” sebut kunjungan Paus sebagai “pesan damai” untuk Lebanon dan Israel. Tapi Hizbullah tolak, sebut senjata mereka lindungi kedaulatan. Internasional campur aduk: AS tekan Israel akhiri pelanggaran, sementara Liga Arab adopsi rencana rekonstruksi Lebanon senilai miliaran dolar. Israel, yang tebas komandan militer Hizbullah Haytham Ali Tabatabai pekan lalu, klaim serangan target operasi kelompok itu. Kunjungan Paus, yang tiba di tengah gencatan rapuh, jadi harapan dialog—tapi pesan Hizbullah ingatkan bahwa perdamaian tak bisa tanpa tolak agresi.
Kesimpulan
Pesan Hizbullah kepada Paus Leo XIV jadi seruan ganda: komitmen hidup bersama di Lebanon majemuk, tapi juga tuntut tolak agresi Israel yang luka negeri itu. Di momen krusial kunjungan pemimpin Gereja ke Beirut, ini pengingat konflik Lebanon-Israel—yang lahir dari perang Gaza—masih jauh dari selesai. Dengan gencatan 2024 yang retak dan tuntutan bongkar senjata, pesan itu campur harap damai dengan perlawanan tegas. Paus Leo, dengan doa untuk yang tertindas, bisa jadi jembatan—tapi perdamaian Lebanon butuh lebih dari kata-kata: akhir serangan, dialog regional, dan komitmen kedaulatan. Saat Beirut sambut pemimpin Vatikan, dunia harap kunjungan ini lahirkan angin segar, bukan badai baru.