Protes Anti-ICE Meluas di Minnesota, 1500 Tentara Siaga. Protes menentang operasi besar Immigration and Customs Enforcement (ICE) di Minnesota memasuki hari keenam pada 23 Januari 2026 dan semakin meluas. Ratusan demonstran kini menduduki jalan-jalan sekitar fasilitas penahanan federal di Minneapolis dan St. Paul, memblokir akses kendaraan ICE serta menuntut penghentian razia massal terhadap imigran tanpa dokumen. Bentrokan dengan polisi semakin sering terjadi, memaksa Gubernur Tim Walz mengaktifkan 1.500 personel National Guard untuk membantu menjaga ketertiban. Hingga malam ini, lebih dari 200 orang ditangkap, 28 demonstran dan 12 petugas terluka, serta beberapa kendaraan dinas rusak. Situasi ini menjadi salah satu konfrontasi terbesar antara pendukung imigran dan aparat keamanan sejak masa awal pemerintahan Trump kedua. MAKNA LAGU
Kronologi Eskalasi dan Tuntutan Utama Protes Anti-ICE: Protes Anti-ICE Meluas di Minnesota, 1500 Tentara Siaga
Aksi dimulai secara damai pada 16 Januari setelah ICE melancarkan operasi besar-besaran di Minneapolis, St. Paul, dan pinggiran kota. Dalam enam hari, sekitar 450 orang ditahan—mayoritas warga Latin Amerika dan Somalia, termasuk banyak yang sudah tinggal puluhan tahun di AS. Berita tentang penangkapan orang tua dan anak-anak yang terpisah dari keluarga memicu kemarahan besar di komunitas imigran. Pada hari keempat, demonstran mulai memblokir pintu masuk fasilitas penahanan federal di South Minneapolis. Hari kelima, kelompok yang lebih radikal memecah kaca beberapa kendaraan dinas dan membakar ban di jalan. Malam keempat dan kelima terjadi bentrokan sengit: polisi menggunakan gas air mata dan peluru karet setelah demonstran melempar batu dan botol api. Pagi 23 Januari, sekitar 800–1.000 orang kembali berkumpul dan memblokir jalan utama menuju gedung federal. Tuntutan utama tetap sama: hentikan razia massal, bebaskan tahanan tanpa catatan kriminal, dan cabut perintah eksekutif Trump yang memperluas kewenangan ICE di tempat-tempat sensitif seperti sekolah, rumah sakit, dan tempat ibadah.
Respons Aparat dan Aktivasi National Guard Minnesota: Protes Anti-ICE Meluas di Minnesota, 1500 Tentara Siaga
Polisi Minneapolis dan Sheriff Hennepin County sudah mengerahkan ratusan personel sejak hari ketiga. Namun setelah bentrokan malam 22 Januari, Gubernur Walz mengeluarkan perintah aktivasi National Guard Minnesota. Sekitar 1.500 tentara mulai dikerahkan pada pagi 23 Januari untuk mengamankan perimeter fasilitas federal, jalur evakuasi darurat, dan titik-titik kritis di Minneapolis serta St. Paul. Walz menegaskan penempatan National Guard bersifat “defensif” dan bertujuan melindungi keselamatan publik serta memastikan operasi penegakan hukum federal berjalan tanpa kekerasan. Namun keputusan ini langsung menuai kritik keras dari kelompok HAM, anggota DPRD Minnesota, dan komunitas imigran. Mereka menilai penggunaan tentara untuk mengawal operasi imigrasi adalah langkah berlebihan dan mengingatkan pada peristiwa George Floyd 2020. Di sisi lain, pihak federal (DHS dan ICE) menegaskan razia ini sah dan fokus pada individu yang melanggar hukum imigrasi serta memiliki catatan kriminal berat. Mereka juga menolak tuduhan pemisahan keluarga secara sengaja.
Dampak Sosial dan Politik di Minnesota
Minneapolis dan St. Paul kembali menjadi sorotan nasional sebagai pusat perlawanan terhadap kebijakan imigrasi keras pemerintahan Trump. Komunitas Latin Amerika dan Somalia di kedua kota merasa sangat terancam—banyak keluarga memilih tidak berangkat kerja atau sekolah selama seminggu terakhir. Beberapa gereja, masjid, dan pusat komunitas membuka pintu sebagai tempat perlindungan sementara. Dari sisi politik, situasi ini memperlebar jurang antara Partai Demokrat yang menguasai Minnesota dan pemerintahan federal. Gubernur Walz berulang kali menyerukan “pendekatan yang lebih manusiawi” terhadap imigrasi, sementara DPRD Minnesota yang mayoritas Demokrat mengancam akan mengajukan resolusi non-binding menentang operasi ICE. Di kubu Republik, beberapa tokoh lokal mendukung tindakan federal dan menyalahkan demonstran atas kekerasan yang terjadi. Di tingkat nasional, peristiwa Minnesota menjadi amunisi baru bagi kedua kubu dalam perdebatan imigrasi yang semakin panas menjelang pemilu paruh waktu 2026.
Kesimpulan
Protes anti-ICE di Minnesota yang semakin meluas dan aktivasi 1.500 tentara National Guard menunjukkan betapa dalamnya perpecahan atas kebijakan imigrasi pemerintahan Trump. Dari aksi damai menjadi bentrokan, situasi ini meninggalkan luka bagi komunitas imigran dan mengingatkan trauma masa lalu. Baik demonstran maupun aparat keamanan berada di posisi tegang—satu insiden besar lagi bisa mengubah skala konfrontasi. Yang jelas, Minnesota sekali lagi menjadi medan pertempuran ideologi nasional. Semua pihak diharapkan menahan diri agar tidak ada korban jiwa tambahan, sementara dialog tentang solusi imigrasi yang lebih manusiawi masih jauh dari kenyataan. Pantau terus—ketegangan ini belum berakhir.