Respon Presiden Israel Atas Trump Minta Netanyahu Diampuni. Pada 13 November 2025, surat resmi dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada Presiden Israel Isaac Herzog menjadi sorotan dunia, di mana Trump secara tegas meminta pengampunan penuh bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu atas kasus korupsi yang membelitnya. Surat itu, yang dirilis secara publik, menyebut Netanyahu sebagai “pemimpin perang yang tangguh” yang perlu dibebaskan dari “lawfare” untuk menyatukan Israel di tengah ketegangan Gaza. Herzog, yang memiliki wewenang konstitusional untuk memaafkan, belum merespons secara resmi, tapi langkah Trump ini memicu gelombang reaksi dari kalangan politik Israel dan internasional. Di saat hubungan AS-Israel sedang hangat pasca-kemenangan Trump, permintaan ini terasa seperti campuran dukungan lama dan intervensi yang berani, meninggalkan pertanyaan: apakah ini akan memperkuat aliansi, atau justru memecah belah masyarakat Israel? MAKNA LAGU
Latar Belakang Kasus Netanyahu dan Dukungan Trump: Respon Presiden Israel Atas Trump Minta Netanyahu Diampuni
Kasus korupsi Netanyahu telah berlarut-larut sejak 2019, melibatkan tuduhan suap, penipuan, dan pelanggaran kepercayaan dari tiga dakwaan terpisah. Ia dituduh menerima hadiah mewah dari pengusaha kaya, berusaha memengaruhi liputan media demi keuntungan pribadi, dan memberikan regulasi menguntungkan kepada perusahaan telekomunikasi sebagai imbalan dukungan politik. Pengadilan Tel Aviv telah menggelar sidang selama bertahun-tahun, dengan Netanyahu bersikeras bahwa ini adalah “pemburuan penyihir” dari elit yudisial yang anti-kannya. Sebagai pemimpin terlama Israel, Netanyahu memenangkan pemilu ketiga kalinya pada 2022, tapi kasus ini terus menggerogoti legitimasi pemerintahannya, terutama di tengah operasi militer Gaza yang kontroversial.
Trump, yang menjabat lagi sejak Januari 2025, punya sejarah panjang mendukung Netanyahu—dari pemindahan kedutaan AS ke Yerusalem hingga pengakuan kedaulatan atas Dataran Tinggi Golan. Surat terbaru ini datang tak lama setelah gencatan senjata sementara di Gaza, di mana Trump memuji Netanyahu sebagai “pemimpin yang memutuskan” yang “menangani situasi dengan tangan besi.” Dalam surat itu, Trump menulis, “Waktunya biarkan Bibi menyatukan Israel dengan memaafkannya, dan akhiri lawfare itu sekali untuk selamanya.” Ini bukan pertama kalinya Trump ikut campur; selama masa jabatan pertamanya, ia pernah mengecam penyelidikan terhadap Netanyahu sebagai “penyalahgunaan kekuasaan.” Dukungan ini, meski hangat, juga mencerminkan dinamika pribadi: keduanya adalah sekutu politik yang saling menguntungkan, dengan Netanyahu sebagai salah satu pendukung vokal Trump di Timur Tengah.
Respons Presiden Herzog dan Dinamika Internal Israel: Respon Presiden Israel Atas Trump Minta Netanyahu Diampuni
Presiden Herzog, yang perannya lebih seremonial tapi krusial dalam urusan pengampunan, menerima surat itu dengan sikap hati-hati. Dalam pernyataan singkat dari kantor kepresidenan, ia menyebut intervensi Trump sebagai “tanda persahabatan mendalam antara dua negara,” tapi menambahkan bahwa keputusan akhir akan didasarkan pada “proses hukum yang adil dan independen.” Herzog, yang dikenal netral secara politik, menghadapi tekanan besar: di satu sisi, koalisi Netanyahu yang didominasi sayap kanan mendesak pengampunan segera untuk stabilkan pemerintahan; di sisi lain, oposisi seperti partai Yesh Atid dan kelompok sipil menolaknya sebagai “serangan terhadap supremasi hukum.”
Netanyahu sendiri bereaksi cepat melalui media sosial, memuji Trump sebagai teman yang “seperti adiknya sendiri” dan berkata, “Kamu bilang apa adanya, dan itu yang Israel butuhkan sekarang.” Respons ini memperkuat citra Netanyahu sebagai korban konspirasi, yang ia gunakan untuk rally basis pendukungnya. Namun, di balik layar, perdebatan membara: Jaksa Agung Gali Baharav-Miara memperingatkan bahwa pengampunan prematur bisa merusak kepercayaan publik terhadap yudikatif, sementara menteri keadilan dari partai Netanyahu mendorong Herzog untuk bertindak. Dinamika ini menyoroti perpecahan Israel: survei terbaru menunjukkan 52 persen warga mendukung pengampunan jika terbukti tidak bersalah, tapi 48 persen khawatir akan erosi demokrasi. Intervensi Trump, meski dimaksudkan sebagai dukungan, justru menambah bahan bakar bagi kritik bahwa Israel terlalu bergantung pada Washington.
Reaksi Internasional dan Implikasi Jangka Panjang
Dunia bereaksi beragam, dengan sekutu AS seperti Inggris dan Jerman menyambut hangat surat Trump sebagai “gestur solidaritas,” tapi kelompok hak asasi seperti Human Rights Watch mengecamnya sebagai “campur tangan asing yang membahayakan kemandirian Israel.” Di Timur Tengah, pemimpin Arab Saudi dan UEA—yang menormalkan hubungan dengan Israel via Abraham Accords—khawatir pengampunan bisa memicu instabilitas regional, terutama jika Netanyahu gunakan itu untuk eskalasi lebih lanjut di Gaza atau Lebanon. PBB, melalui juru bicara, menyerukan agar proses hukum tetap independen, menghindari pengaruh eksternal.
Implikasi jangka panjang jelas: pengampunan bisa perkuat posisi Netanyahu, memungkinkan fokus penuh pada agenda keamanan seperti perluasan pemukiman di Tepi Barat. Tapi jika Herzog tolak, itu bisa picu krisis politik, dengan kemungkinan pemilu dini atau tuntutan impeachment terhadap presiden. Bagi Trump, ini adalah cara memperkuat pengaruhnya di Timur Tengah, tapi berisiko dituduh campur urusan dalam urusan negara lain. Di Israel, ini jadi ujian bagi institusi demokrasi: apakah hukum di atas politik, atau persahabatan internasional lebih penting? Bagi warga biasa, yang lelah dengan skandal dan konflik, respons Herzog akan tentukan arah nasib bangsa di tahun-tahun mendatang.
Kesimpulan
Surat Trump yang meminta pengampunan Netanyahu adalah momen yang mencerminkan ikatan rumit antara pemimpin dua negara terkuat di aliansi itu, tapi juga pengingat akan tantangan menjaga keseimbangan antara dukungan dan kedaulatan. Respons Herzog, yang masih menggantung, bisa jadi titik balik: memaafkan berarti prioritas stabilitas politik, tapi menolak berarti pertahanan prinsip hukum. Di tengah tekanan domestik dan global, Israel berada di persimpangan—antara persatuan di bawah Netanyahu yang kontroversial atau reformasi yang lebih dalam. Bagi Trump, ini kemenangan diplomatik sementara; bagi Netanyahu, harapan baru dari bayang-bayang pengadilan. Yang pasti, di dunia geopolitik yang volatile, gestur seperti ini tak pernah netral, dan dampaknya akan bergaung jauh melampaui surat itu sendiri. Hanya waktu yang akan tunjukkan apakah ini langkah menuju persatuan, atau celah baru dalam fondasi demokrasi Israel.