Total 12 Kecamatan di Daerah Pandeglang Banjir. Hujan deras yang mengguyur wilayah Pandeglang sejak malam 14 Januari 2026 hingga pagi hari berikutnya menyebabkan banjir melanda 12 kecamatan sekaligus. Kejadian ini menjadi salah satu banjir terluas yang dialami kabupaten tersebut dalam beberapa tahun terakhir. Ribuan rumah terendam, ratusan warga mengungsi, dan akses jalan utama terputus di beberapa titik. Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat langsung menetapkan status tanggap darurat selama tujuh hari ke depan. Hingga 15 Januari siang, banjir masih menggenangi puluhan desa, terutama di daerah dataran rendah dan pinggir sungai. Warga terdampak kini menunggu bantuan logistik sambil berharap cuaca segera membaik. MAKNA LAGU
Penyebab dan Luas Genangan yang Signifikan: Total 12 Kecamatan di Daerah Pandeglang Banjir
Curah hujan ekstrem mencapai lebih dari 200 mm dalam 12 jam menjadi pemicu utama. Sungai-sungai besar di Pandeglang meluap karena kapasitas drainase tidak mampu menampung debit air yang melonjak. Beberapa kecamatan yang paling parah terdampak adalah Majasari, Cimanggu, Cibaliung, dan Karang Tanjung, di mana genangan mencapai ketinggian satu hingga dua meter. Banjir juga dipicu meluapnya waduk kecil dan saluran irigasi yang tersumbat sampah serta sedimentasi. Data sementara mencatat lebih dari 8.500 rumah terendam, 1.200 jiwa mengungsi ke posko-posko darurat di balai desa dan sekolah. Akses jalan provinsi di beberapa titik terendam lumpur dan puing, membuat distribusi bantuan terhambat. Tim gabungan dari TNI, Polri, dan relawan masih berupaya membuka jalur darurat menggunakan perahu karet dan alat berat ringan.
Dampak terhadap Warga dan Infrastruktur: Total 12 Kecamatan di Daerah Pandeglang Banjir
Banjir kali ini tidak hanya merendam rumah, tapi juga merusak infrastruktur dasar. Lebih dari 20 titik jembatan kecil ambruk atau rusak parah, memutus akses antardesa di kecamatan pedalaman. Sekitar 15 sekolah dasar dan menengah terendam sehingga kegiatan belajar terpaksa diliburkan. Petani di lahan persawahan kehilangan ribuan hektare tanaman padi dan sayuran yang baru ditanam. Beberapa peternak melaporkan ratusan ekor ternak ayam dan kambing hanyut atau mati karena genangan. Dari sisi kesehatan, ada laporan warga yang mengalami infeksi kulit akibat air tercemar dan beberapa anak kecil terkena demam tinggi. Posko kesehatan darurat sudah didirikan dengan tenaga medis yang bertugas memberikan obat dan vaksinasi pencegahan. Warga terdampak paling banyak berasal dari kelompok ekonomi menengah ke bawah yang tinggal di bantaran sungai dan daerah rendah, sehingga pemulihan rumah mereka diperkirakan memakan waktu lama.
Upaya Penanganan dan Antisipasi Selanjutnya
Pemerintah daerah bersama provinsi dan pusat telah mengirimkan bantuan logistik berupa makanan siap saji, selimut, tenda darurat, dan obat-obatan. Helikopter dan truk amfibi digunakan untuk menjangkau desa-desa terisolasi. Tim SAR masih melakukan penyisiran untuk memastikan tidak ada warga yang terjebak. Pemkab Pandeglang menyatakan akan melakukan normalisasi sungai dan pembersihan saluran drainase secara intensif setelah banjir surut. Beberapa kecamatan yang rawan juga akan dievaluasi untuk relokasi warga ke tempat yang lebih aman. Cuaca ekstrem ini diharapkan menjadi peringatan bagi semua pihak agar lebih serius dalam pengelolaan lingkungan, terutama penataan ruang dan pencegahan pembuangan sampah ke sungai.
Kesimpulan
Banjir yang melanda 12 kecamatan di Pandeglang menjadi pengingat betapa rentannya wilayah ini terhadap hujan ekstrem. Ribuan warga terdampak, infrastruktur rusak, dan ekonomi lokal terganggu menunjukkan perlunya langkah preventif yang lebih kuat ke depan. Saat ini fokus utama adalah penyelamatan, distribusi bantuan, dan pemulihan cepat. Pemerintah daerah bersama masyarakat diharapkan bisa bekerja sama agar kejadian serupa tidak terus berulang. Banjir kali ini bukan hanya soal air yang datang, tapi juga tentang kesiapan dan tanggung jawab bersama menjaga lingkungan agar tidak lagi menjadi ancaman bagi kehidupan sehari-hari warga Pandeglang.