Trump Ancam Gugat NYT atas Polling Merosot. Presiden Donald Trump kembali membuat heboh dengan ancaman gugat New York Times (NYT) atas laporan polling yang menunjukkan dukungannya merosot pada 22 Januari 2026. Dalam konferensi pers di Mar-a-Lago, Trump sebut polling NYT “palsu dan bias” karena menunjukkan approval rating-nya di bawah 40% dan dukungan pemilu ulang hanya 42%. Ancaman ini muncul di tengah kampanye pemilu 2028 yang semakin panas, di mana Trump lagi fokus kritik media dan saingan politiknya. NYT langsung respons dengan bilang laporan mereka akurat dan berdasarkan metodologi standar, tapi ancaman gugat ini jadi sinyal Trump tak akan diam atas berita negatif. Situasi ini jadi isu panas yang bikin pasar keuangan dan opini publik bergejolak. MAKNA LAGU
Latar Belakang Ancaman dan Polling NYT: Trump Ancam Gugat NYT atas Polling Merosot
Ancaman gugat muncul setelah NYT rilis polling nasional pada 21 Januari yang tunjukkan Trump kalah dukungan di kalangan pemilih independen dan suburban. Polling itu bilang 58% responden tidak setuju kebijakan Trump soal perdagangan dengan Eropa dan isu Greenland, sementara 42% setuju. Trump bilang polling ini “dibuat-buat untuk hancurkan saya” dan ancam gugat NYT atas “fitnah dan berita palsu” yang katanya rugikan citranya miliaran dolar. Ini bukan kali pertama—Trump sering kritik NYT sebagai “failing newspaper” dan sudah gugat mereka sebelumnya atas laporan soal pajaknya tahun 2018. Polling NYT dilakukan oleh Siena College dengan sampel 1.200 pemilih, margin error 3,2%. Hasilnya tunjukkan dukungan Trump merosot 4 poin dari bulan lalu, terutama di negara swing seperti Pennsylvania dan Michigan. Trump bilang metodologi pollingnya bias karena oversampling pemilih Demokrat, tapi NYT bela diri dengan bilang metodologi mereka transparan dan independen.
Reaksi dari NYT, Publik, dan Sekutu Trump: Trump Ancam Gugat NYT atas Polling Merosot
NYT langsung respons melalui editorial: “Kami berdiri di belakang laporan kami—polling ini akurat dan bagian dari jurnalisme bebas.” Pemimpin redaksi bilang ancaman gugat ini “upaya intimidasi” tapi tak akan hentikan liputan mereka. Beberapa pakar hukum bilang gugatannya lemah karena polling dilindungi hak kebebasan pers di bawah Sullivan vs NYT 1964, yang butuh bukti “actual malice” untuk gugat media. Publik campur aduk: pendukung Trump dukung ancaman ini di sosmed dengan hashtag #SueNYT, bilang polling palsu untuk manipulasi pemilu. Kritikus bilang ini serangan terhadap pers bebas dan bukti Trump tak terima kritik. Pasar keuangan bereaksi: saham NYT turun 5% setelah ancaman, tapi rebound setelah editorial. Sekutu Trump seperti Rudy Giuliani dan Steve Bannon dukung gugatannya, bilang NYT “musuh rakyat”.
Dampak Potensial pada Pemilu dan Media
Ancaman ini bisa picu gelombang gugatan serupa dari politisi ke media, terutama menjelang pemilu 2028. Jika Trump lanjut gugat, ini jadi kasus tes besar kebebasan pers di AS. Dampak ekonomi: polling negatif bisa naikkan ketidakpastian pasar, terutama soal kebijakan perdagangan Trump yang lagi kontroversial. Di kubu Trump, ini bisa jadi strategi rally base—dukungan bisa naik kalau pemilih lihat dia “lawan sistem”. Bagi NYT, ini tantangan tapi juga kesempatan tingkatkan kredibilitas dengan liputan lebih dalam soal polling. Beberapa analis bilang polling merosot ini nyata karena isu ekonomi dan kebijakan luar negeri Trump yang ekstrem, seperti ancaman tarif Eropa.
Kesimpulan
Ancaman gugat Trump ke NYT atas polling merosot jadi isu panas yang tunjukkan ketegangan antara presiden dan media bebas. Di tengah kampanye pemilu yang makin sengit, langkah ini bisa jadi boomerang atau booster bagi Trump—tergantung bagaimana kasus ini berkembang. NYT tetap tegas berdiri di belakang laporannya, sementara publik menunggu apakah ancaman ini jadi kenyataan. Yang jelas, ini pengingat betapa pentingnya jurnalisme independen di demokrasi. Pantau terus—perang kata-kata ini mungkin baru awal dari pertarungan lebih besar menuju 2028. Trump lagi main keras, tapi NYT tak akan mundur begitu saja.