trump-sebut-akan-melakukan-uji-coba-senjata-nuklir

Trump Sebut Akan Melakukan Uji Coba Senjata Nuklir. Pada 30 Oktober 2025, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membuat pernyataan yang mengguncang dunia: AS akan segera melanjutkan uji coba senjata nuklir untuk pertama kalinya dalam tiga dekade terakhir. Dalam pidato singkat di Gedung Putih, Trump menyatakan bahwa instruksi sudah diberikan kepada Pentagon untuk memulai pengujian “secara setara” dengan Rusia dan China, sebagai respons terhadap kemajuan nuklir kedua negara itu. Pernyataan ini muncul di tengah ketegangan global yang meningkat, termasuk uji coba misil Rusia di Ukraina dan pengembangan hipersonik China. Bagi Trump, ini langkah tegas untuk mempertahankan superioritas militer AS, tapi bagi banyak pihak, ini seperti membuka kotak Pandora era Perang Dingin. Dengan moratorium pengujian nuklir sejak 1992, keputusan ini tak hanya teknis, tapi juga simbolik—menguji komitmen dunia terhadap non-proliferasi di saat ketidakpastian mencapai puncak. INFO CASINO

Latar Belakang Pernyataan Trump: Trump Sebut Akan Melakukan Uji Coba Senjata Nuklir

Trump tak asing dengan retorika nuklir yang berani. Sejak masa jabatannya yang pertama, ia sering mengkritik kesepakatan seperti New START dengan Rusia, yang membatasi stok senjata nuklir strategis. Pada 2025, setelah kembali ke kursi presiden, Trump melihat kemajuan Rusia—seperti penerapan senjata nuklir taktis di medan Ukraina—dan China, yang dikabarkan punya lebih dari 500 hulu ledak, sebagai ancaman langsung. Dalam pernyataannya, Trump bilang, “Kita tak bisa tertinggal; kita harus uji coba agar tetap unggul.” Ini bukan ide baru; selama kampanye, ia janji modernisasi arsenal nuklir senilai 1,5 triliun dolar, termasuk penggantian rudal Minuteman III yang sudah usang.

Fakta di lapangan mendukung kekhawatirannya. Laporan intelijen AS menunjukkan Rusia telah lakukan uji coba bawah tanah sejak 2018, meski secara diam-diam, sementara China bangun silo baru di Gurun Gobi. AS, yang terikat Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty sejak 1996 meski belum diratifikasi, kini terjebak dalam paradoks: simulasi komputer canggih tak cukup gantikan data real dari ledakan aktual. Trump, dengan gaya khasnya, pilih pendekatan langsung—instruksikan militer siapkan fasilitas di Nevada Test Site, yang terakhir aktif pada 1992. Langkah ini sejalan dengan doktrin “peace through strength” miliknya, di mana pengujian jadi alat pencegah, bukan provokasi.

Reaksi Domestik dan Internasional: Trump Sebut Akan Melakukan Uji Coba Senjata Nuklir

Reaksi di AS campur aduk. Demokrat seperti Senator Elizabeth Warren sebut ini “gila dan berbahaya”, khawatir picu lomba senjata baru dan langgar semangat traktat internasional. Di sisi lain, Republikan di Kongres, termasuk Mitch McConnell, dukung penuh, anggap ini perlu untuk deteren. Ahli nuklir dari Sandia National Laboratories bilang pengujian bisa tingkatkan keandalan senjata lama seperti W88, tapi butuh waktu minimal enam bulan untuk persiapan—bukan “segera” seperti kata Trump. Publik AS, menurut survei Gallup baru, terbelah: 45 persen setuju, sisanya khawatir risiko radiasi dan biaya tambahan miliaran dolar.

Secara global, gelombang kecaman datang cepat. Rusia, melalui juru bicara Kremlin Dmitry Peskov, sebut ini “langkah destruktif” yang bisa batalkan perpanjangan New START pada 2026. China, via Kementerian Luar Negeri, ancam “balas jika perlu” dengan percepatan programnya sendiri. Sekutu AS seperti Jepang dan Korea Selatan gelisah, ingat trauma Hiroshima dan Nagasaki, sementara Uni Eropa desak dialog darurat di PBB. Iran dan Korea Utara, yang program nuklirnya disanksi AS, justru senang—ini jadi alasan baru untuk klaim hipokrit Barat. Di sisi positif, India dan Pakistan, yang punya pengalaman pengujian, tawarkan kolaborasi teknis, meski secara diam-diam.

Implikasi Teknis dan Geopolitik

Secara teknis, kembali ke pengujian bukan urusan mudah. AS punya stok 3.700 hulu ledak aktif, tapi tanpa data ledakan real, kepercayaan pada simulasi plasma dan laser di Lawrence Livermore diragukan. Pengujian bawah tanah di Yucca Flat bisa mulai dengan simulasi subkritis—ledakan tanpa reaksi rantai—tapi Trump tampak incar yang penuh untuk validasi desain baru seperti B61-13. Risikonya tinggi: kontaminasi lingkungan di Nevada, di mana 900 tes sejak 1951 tinggalkan warisan kanker bagi penduduk lokal. Biayanya? Estimasi awal 2 miliar dolar per tahun, potong anggaran lain seperti pertahanan siber.

Geopolitiknya lebih luas. Ini bisa erosi Non-Proliferation Treaty, yang 191 negara ikuti, dan dorong negara seperti Arab Saudi atau Turki ke arah nuklir. Bagi Trump, ini strategi untuk tekan Rusia di Ukraina—mungkin paksa Putin mundur dari ancaman nuklirnya. Tapi para analis bilang ini boomerang: China bisa percepat hypersonic glide vehicle, sementara Rusia uji Poseidon torpedo nuklirnya. Di era multipolar, pengujian AS justru perkuat narasi “kekaisaran Barat” yang dimanfaatkan propaganda Beijing. Yang jelas, ini ubah dinamika: dari diplomasi ke demonstrasi kekuatan, dengan PBB yang kini gelar sidang khusus November ini.

Kesimpulan

Pernyataan Trump soal uji coba nuklir adalah pernyataan berani yang lahir dari kekhawatiran sah, tapi berisiko tinggi di dunia yang sudah tegang. Dengan instruksi ke Pentagon, AS buka pintu era baru pengujian yang bisa perkuat deteren atau picu eskalasi tak terkendali. Reaksi global menunjukkan betapa rapuhnya keseimbangan nuklir saat ini—dari kecaman Rusia hingga dukungan domestik yang terbelah. Bagi Trump, ini taruhan politik untuk warisannya sebagai pemimpin tegas; bagi dunia, ini pengingat bahwa satu pidato bisa ubah peta ancaman. Dengan sidang PBB di depan mata, harapannya dialog menang atas ledakan. Kalau tidak, 2025 bisa jadi tahun di mana bayang-bayang Hiroshima kembali menghantui langit modern.

 

BACA SELENGKAPNYA DI…

By admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *