Pakistan Kirimkan Dokter & Professor ke RI. Kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Pakistan pada Selasa (9 Desember 2025) hasilkan kesepakatan hangat yang langsung sentuh isu krusial: kesehatan. Dalam pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Shehbaz Sharif di Islamabad, Pakistan komitmen kirim dokter, profesor, dan pakar kesehatan ke Indonesia. Prabowo sebut bantuan ini “sangat strategis dan krusial,” terutama saat Indonesia kekurangan ribuan dokter umum dan spesialis. Langkah ini bagian upaya perkuat hubungan kedua negara yang sudah harmonis selama 75 tahun, selain dorong kerjasama perdagangan, pendidikan, pertanian, dan teknologi. Dengan program pendidikan masif Prabowo yang rencanakan buka 30 fakultas kedokteran baru, kedatangan pakar Pakistan jadi booster cepat untuk atasi gap tenaga medis. Ini bukan sekadar diplomasi, tapi aksi nyata bantu rakyat Indonesia akses layanan kesehatan lebih baik. INFO SLOT
Kesepakatan Bilateral di Islamabad: Pakistan Kirimkan Dokter & Professor ke RI
Pertemuan di Prime Minister’s Office Islamabad berlangsung penuh semangat, dengan Prabowo dan Sharif bahas isu praktis. Prabowo ungkap kekurangan dokter Indonesia: 140 ribu dokter umum dan 70 ribu spesialis, yang butuh waktu 35 tahun untuk tutup tanpa bantuan eksternal. “Saya sangat senang Pakistan bersedia kirim dokter, profesor, dan pakar untuk bantu sektor kesehatan kami,” kata Prabowo, apresiasi komitmen Sharif. Pakistan, dengan sistem medis kuat dan banyak lulusan MBBS, siap kontribusi lewat program pertukaran. Ini lanjutan kolaborasi sebelumnya, seperti rencana NTT dengan GAK Healthcare Pakistan untuk datang dokter spesialis. Sharif sebut ini langkah saudara, sejalan visi hubungan bilateral yang lebih dalam. Prabowo instruksikan menteri percepat implementasi, targetkan pakar tiba awal 2026 untuk dukung RS dan universitas kedokteran.
Kebutuhan Dokter Indonesia dan Program Prabowo: Pakistan Kirimkan Dokter & Professor ke RI
Indonesia hadapi krisis tenaga kesehatan kronis, terutama di daerah terpencil. Prabowo, sejak Agustus lalu, rencanakan buka 148 prodi baru di 57 fakultas kedokteran—125 spesialis dan 23 subspesialis—untuk kejar target. Tapi proses panjang butuh pakar luar untuk transfer ilmu. Bantuan Pakistan pas di saat tepat: dokter dan profesor mereka bisa mentor mahasiswa, bantu kurikulum, dan praktik langsung di RS seperti RS PON Mahar Mardjono. Prabowo sebut ini “krusial” untuk program masifnya, yang mulai September 2025. Selain itu, kerjasama ini selaraskan dengan beasiswa LPDP-Kemenkes untuk dokter spesialis, di mana lulusan luar negeri seperti dari Pakistan bisa adaptasi cepat via UKDI. Ini bukan impor dokter, tapi jembatan pengetahuan untuk bangun SDM lokal.
Respons Mahasiswa dan Diaspora Indonesia
Mahasiswa Indonesia di Islamabad sambut berita ini dengan antusias. Farhan, salah satu mahasiswa, sebut kunjungan Prabowo perkuat ikatan 75 tahun: “Hubungan harmonis ini makin kuat, semoga bawa manfaat nyata seperti bantuan kesehatan.” Mereka harap kerjasama ini buka peluang beasiswa timbal balik, terutama untuk studi kedokteran. Diaspora Indonesia di Pakistan, yang sambut Prabowo dengan yel-yel semangat, lihat ini sebagai momentum. “Kedatangan pakar Pakistan bantu kami di sini juga, lewat sharing pengalaman,” kata seorang WNI. Respons positif ini tunjukkan diplomasi Prabowo tak cuma formal, tapi dekat dengan rakyat. Sharif puji Prabowo sebagai pemimpin visioner, janji percepat pengiriman pakar untuk dukung visi kesehatan Indonesia.
Kesimpulan
Pakistan kirim dokter dan profesor ke Indonesia jadi buah manis dari kunjungan Prabowo ke Islamabad, jawab kebutuhan mendesak tenaga medis di tengah program pendidikan masif. Dari kesepakatan bilateral hingga respons hangat diaspora, langkah ini perkuat ikatan dua negara dan bawa harapan nyata untuk rakyat. Bukan sekadar bantuan, tapi investasi jangka panjang untuk SDM kesehatan Indonesia. Dengan pakar Pakistan tiba, mimpi tutup gap dokter makin dekat—Prabowo tepat sasaran, dan rakyat untung besar. Hubungan Indonesia-Pakistan, selamat berlanjut lebih erat!